Rabu, Oktober 07, 2009

Niscaya

Yang terjadi bukanlah mimpi
Juga bukannya buah muslihat
Yang datang niscaya akan pergi
Alur alirnya berputar tanpa rehat
TakdirNya menyapa tak pilih batasan
Hanya sabar menjalani malamNya
Hanya ibadah mengarungi siangNya

Senin, Agustus 10, 2009

Tahiat

setelah ketakutan menekan
sujudku
setelah segalanya kupasrahkan
kepadamu
allahu akbar!
sudah benarkah sikapku
menghadapmu?
sudah bersihkah
lahir-batinku?
sudah luruskah kalbuku
menujumu?
sudah antengkah
jiwaku?
sudah berkenankah engkau
menerimaku?
allahu akbar!
terimalah o, allahku
tahiatku!

***

tahiat penuh berkat
selawat penuh madu
bagimu, allahku

***

wahai nabiku
kekasih utusan tuhanku
dimanakah engkau?
di depankukah?
di sisinyakah?
o, nabiku
o, kekasih
dimana pun engkau
terimalah salamku!

***
salam kepadamu
wahai nabiku
rahmat dan berkat
allah bagimu

***
wahai hamba-hamba allah yang saleh
para malaikat, mendekatlah!
para wali, kemarilah!
beri aku semangat
aku takut.

***
salam bagi kita
dan hamba-hamba allah yang saleh

***
ya allah, saksikanlah persaksianku
wahai utusan allah, saksikanlah persaksianku
wahai segenap hamba allah yang saleh
saksikanlah persaksianku

***

asyhadu an laa ilaaha illallah
wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluh!
ya, allah aku bersaksi
utusanmu muhammad telah menyampaikan
firmanmu kepada segenap hambamu
menunjukkan jalan lurus menujumu
sebagaimana Ibrahim menunjukkannya
kepada kaum dan anak-cucunya

***

wahai allah
limpahkanlah selawat dan salam
kepada utusanmu muhammad
dan keluarga muhammad
seperti telah engkau limpahkan
selawat dan salam kepada Ibrahim
dan keluarga Ibrahim
berkatilah muhammad
dan keluarga muhammad
seperti telah engkau berkati Ibrahim
dan keluarga Ibrahim
di alam semesta
sungguh engkau maha terpuji
maha agung

***

wahai para jamaah yang pasrah
wahai para malaikat allah

***

assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!

***

kutoleh ke kanan dan ke kiri
sekilas hanya kulihat
cahayacahayacahayacahayacahaya
memenuhi semesta ruang
kaliankah itu para malaikat?

***

allah, masih kauawasikah aku?

Selasa, Juni 09, 2009

Rumah... impianku

Tepat di bulan ini saya memberanikan diri dan memutuskan mengambil kredit pemilikan rumah...... rumah impian....... rumah sederhana saja. Bukan 'masih impian' tapi 'masuk ke dalam mimpi yang nyata'. Suatu keputusan yang sulit karena memaksa saya untuk berpikir berkali-kali lipat. Sungguh suatu kenyataan yang nekat saya ciptakan karena harga yang saya tanggung sebenarnya belum cukup dibandingkan kemampuan saya yang sebenarnya. Tetapi keputusan sudah dibuat dan jalan sudah mulai dibangun, selanjutnya harus dilalui. Tinggallah doa serta harapan kepada yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Pemberi dan Maha Besar ; semoga jalan yang akan saya lalui ke depan mendapatkan rahmatNya, berkahNya, dan ridhoNya. Bismillahi tawwakaltu al Allah wa la haula wa la quwwata illa billahi alliyil adhim.

Kamis, Mei 14, 2009

“Menunda amal perbuatan yang baik karena menanti-nanti kesempatan yang lebih baik merupakan tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa” (Ibnu Athaillah)
“Pandang terus hingga kau temukan keindahan, atau pejamkan saja matamu!”

Jumat, November 14, 2008

Canda Nabi

Pada suatu saat, ketika Ali bin Abi Thalib masih kanak-kanak, pernah makan kurma bersama-sama Rasulullah. Setiap kali mereka makan sebuah kurma, biji-biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing-masing.

Beberapa saat kemudian, Ali menyadari bahwa dia memakan terlalu banyak kurma. Biji-biji kurma sisa mereka menumpuk lebih banyak di sisi Ali dibandingkan di sisi Rasulullah. Maka Ali pun secara diam-diam memindahkan biji-biji kurma tersebut ke sisi Rasulullah.

Ali pun berkata, “Wahai Nabi, engkau memakan kurma lebih banyak daripada aku. Lihatlah biji-biji kurma yang menumpuk di tempatmu.” Nabi pun tertawa dan menjawab, “Ali, kamulah yang memakan lebih banyak kurma. Aku memakan kurma dan masih menyisakan biji-bijinya. Sedangkan engkau, memakan kurma berikut biji-bijinya.”

(disarikan dari Sirah Nabi).

Lukman dan Anaknya

Suatu hari Lukman mengambil keledai dan keluar bersama anaknya. Lukman menaiki keledai. Tak lama terdengar seseorang berkomentar, “Orang tua tak tahu diri, membiarkan anaknya berjalan sementara ia enak-enak naik keledai.”

Maka Lukman turun dan mengangkat anaknya ke atas keledai. Mereka meneruskan perjalanan. Tak lama terdengar komentar lain, “Anak tak tahu diri, membiarkan orang tuanya berjalan sementara ia enak-enak naik keledai.”

Lalu Lukman ikut naik keledai, dan meneruskan perjalanan. Namun terdengar komentar lain lagi, “Orang-orang kejam, menaiki keledai malang itu berdua, padahal mereka tidak sakit dan tidak lemah.”

Akhirnya Lukman turun, dan menurunkan anaknya, dan berjalan pulang. Masih juga orang berkomentar, “Orang-orang bodoh, mereka berjalan kali padahal memiliki keledai, dan keledai itu tidak sakit dan tidak lemah.”

Moral of the story: Teruskanlah bekerja demi kepentingan mulia itu hingga selesai. Janganlah hiraukan orang lain. Janganlah dengarkan tanggapan-tanggapan mereka, tapi maafkanlah mereka. Tidak ada jalan untuk memuaskan mereka semua.
(Disunting dari NofieIman.com)